Bersosial Media

Semenjak pandemi, waktu yang terbuang buat gue main sosmed jadi lebih banyak karena sekarang ini kalo mau berinteraksi ya lewat sosmed, kan ketemu langsung nggak boleh. Nah, biasanya orang-orang yang muncul di timeline gue itu-itu aja. Dia adalah para artis Indonesia yang sering update kehidupannya. Karena yang muncul 4L alias Lo Lagi Lo Lagi, gue jadi ngerasa deket dan kenal dengan mereka padahal gue nggak pernah ketemu mereka atau bahkan bertepuk sebelah tangan, gue tau mereka, mereka tau keberadaan gue di Bumi juga nggak. Intinya, karena sosmed gue jadi ngerasa orang yang sama sekali nggak gue kenal itu "deket" sama gue.

Setelah gue pikir-pikir, salah satu efek main sosmed adalah jadi ngerasa deket sama orang yang sering dilihat di sosmed. Karena efek ini juga yang bikin netisen ringan jari dengan gampangnya menghakimi orang lain, nge-judge orang lain di kolom komentar, karena netisen merasa udah tau banget kegiatan dan keseharian si orang itu layaknya sahabat.

By the way, gue orangnya sangat mengikuti dunia showbiz Indonesia. Ada kegaduhan sedikit langsung meluncur ke koordinat sosmed terus gue baca-bacain komentar dari para 'ahli konten' di sana. Kenapa gue sebut ahli konten? Karena nggak jarang dari mereka komentarin konten apa yang layak untuk diterima dan pantas untuk dihujat. Jelas, hal ini salah besar karena apa yang mau di-share ke sosmednya adalah 100% hak yang punya akun karena yang akan bertanggung jawab atas kontennya juga yang punya akun. Nggak dikit komentar ahli konten ini yang bikin gue GERAAAHHH banget bacanya. Ada yang nyerang fisik, masa lalu, keluarga, duh banyak deh..

Tiap kali gue baca komen-komennya, ada satu pertanyaan yang sama muncul di benak gue:

Lu siapeeee kok ngatur banget!

Kenapa ya, para ahli konten suka banget ngomentarin orang yang kenal dia aja nggak, pernah ketemu langsung juga nggak, cuma karena si orang itu sering muncul di layar hp-nya, udah berasa ber-hak ikut campur urusan hidupnya. Hadeh...

Image

Tapi kan kalo public figure diliat banyak orang, harusnya ngasih contoh yang bagus dong!

Benar... tapi kita sebagai orang yang melihat, harusnya bisa dong memilah mana yang sekiranya bisa dijadikan contoh, mana yang nggak. Lagian untuk mencontoh seseorang nggak mesti dong semua jalan hidupnya dicontoh. Ambilah yang baik-baik aja. Kagum dengan si A soal bisnis ya fokus ambil ilmu dari si A tentang cara dia manajemen bisnis, soal si A nggak suka jengkol mah nggak perlu dijadikan contoh juga. Apalagi sampai nge-judge si A karena misal kita suka jengkol.

Di postingan ini bukan maksud gue untuk mengatur tentang berkomentar di media sosial. Gue cuman heran aja sama hal hate comment dan judgement yang keluar dari para ahli konten. Apalagi kalo hate commentnya nyerang fisik, keluarga, dan keluar dari konteks postingannya. DUH!

Posting Komentar

0 Komentar