Liburan Kuliah

Gue ngerasa libur semesteran kuliah lebih enak dibandingkan libur sekolah. Mungkin karena kalau libur kuliah masih kedapetan libur di saat anak-anak sekolah masuk. Jadi, vibes liburnya ada banget. Libur semesteran juga ngasih gue waktu buat nafas selega-leganya setelah dikejar deadline tugas yang nggak ada abisnya. Kayak minum air putih selesai lari marathon, lebih nikmat!

Untuk mengisi waktu libur semesteran yang sangat senggang, gue memutuskan buat menjalin tali tambang silaturahmi sama temen-temen SMA. Main bareng, piknik bareng, jalan-jalan, pokoknya hari-hari diisi ketawa doang. Google Calender gue isinya penuh dengan jadwal main dan rumah siapa yang harus gue sambangi selama liburan, bukan deadline tugas pemrograman apalagi batas akhir ngumpulin tugas kalkulus.

Di tanggal 19 Januari kemarin, gue piknik-piknikan bareng geng SMA. Niatnya supaya piknik cantik kayak geng Cinta, tapi yang ada malah kayak geng host Dangdut Academy. Padahal dari dresscode, make up, sampai perbekalan udah disiapkan sedemikian cantik dan Instagramable, tapi bawaan karakter emang nggak bisa lepas. Karakter humoris-receh tetep melekat paripurna.

Kami sampai GBK jam 14.18, sementara Hutan Kota buka jam 15.00. Karena hari itu nggak diawali dengan niat puasa, gue sama temen gue kelaperan. Dibukalah bagasi mobil dan makanan-makanannya. Ada yang makan sambil duduk di bagasi, ada juga yang ngemper duduk di tanah. Yang tadinya mau piknik cantik ala-ala di Hutan Kota malah jadi kayak piknik tahun baru di Anyer. Tapi nggak apa-apa, motto kami adalah hidup paling enak kalo dibawa santai.

Tepat jam 15.00, kami masuk ke Hutan Kota. Di sana kami gelar tiker yang pada dasarnya adalah taplak meja makan. Perlu diketahui, kami mulai piknik jam 3 siang. Itu artinya matahari belum sepenuhnya tenggelam alias panasnya masih nyampe ke kulit. Tapi nggak apa-apa, motto kedua kami adalah: yaudahlah~

Piknik santai dengan pemandangan gedung-gedung di kawasan SCBD.

Bukan geng hijrah Melody JKT 48.

Pondasi tubuh dan jiwa yang sehat.

Kelar piknik dan foto-foto di Hutan Kota, kami memutuskan nyari AC di Senayan Park. Mall baru di kawasan Senayan. Review dikit, mall-nya bagus, enak buat jadi tempat kongkow. Selain itu, Senayan Park juga punya skywalk yang ada tulisan I <3 ID, tipikal tempat wisata Indonesia banget. Sebenernya gue juga nggak ngerti maksud skywalk-nya itu untuk ngeliat apa. Kalo untuk ngeliat sunset, kata gue justru lebih jelas ngeliat sunset dari ring road GBK dibandingkan dari skywalk Senayan Park.

Di sana, kita juga menunaikan kewajiban sebagai sosialita: foto-foto.

View dari skywalk.

Hidup bukan hidup kalo nggak dihadapkan dengan masalah. Masalah kami pas mau pulang adalah parkir mobil di luar sementara di luar hujan. Kondisinya nggak ada payung sama sekali. Geng yang beranggotakan Irfan Hakim, Ramzi, Gilang Dirga, Soimah, Dewi Persik, dan Mbak Inul bingung harus gimana caranya supaya bisa menembus hujan. Kami pun rembukan. Solusi pertama muncul dari Mbak Inul alias gue. Gue menyarankan buat jalan-jalan lagi aja di mall sambil nunggu hujan. Saran gue nggak mendapat persetujuan dari seruluh peserta rapat. Tiba-tiba seorang satpam menghampiri kami ngomong: minta supirnya jemput di basement aja. CERDAS! Mbak Inul pun terdiam dan berkata: iya juga ya.

Masalah selesai. Kami bisa pulang tanpa kehujanan, tapi terjebak di kemacetan. Sekian.

Posting Komentar

0 Komentar